Archive for gorontalo

Penyiaran Kita

Posted in Umum with tags , , , on April 30, 2013 by Mohamad Reza

Banyak hal yang berubah ketika Indonesia mengalami masa transisi dari Perjuangan, Orde Baru hingga ke masa Reformasi, tak terkecuali untuk penyebaran informasi melalui penyiaran elektronik. Banyak yang menganggap sepele urusan tentang penyiaran, mereka seakan lupa jika hidup saat ini, hampir dipengaruhi oleh rutinitas hingga konten penyiaran yang menjadi “aksesoris” dalam hidup masing-masing individu.

ImageSebut saja, untuk orang dewasa di Gorontalo, setiap pagi rata-rata sudah menghidupkan radio dan tanpa sadar menantikan radiogram atau berita kedukaan, saat melangkah ke kantor/sudah berada dikantor menyalakan TV/radio untuk mengetahui perkembangan informasi terbaru. Malam hari mengakses TV untuk update informasi. Media seakan menjadi teman, yang tanpa sadar membantu membentuk perilaku kita. Tak terkecuali anak-anak, dengan meniru perilaku yang dilihat/didengarnya, Kita mungkin masih ingat ketika tayangan WWF (Wrestling Siaran Amerika) menjadi tayangan TV-TV nasional, berapa anak yang jadi korban karena tanpa sengaja temannya melakukan perilaku kekerasan itu pada dirinya?

Budaya dibentuk dari symbol-symbol dan kebiasaan-kebiasaan yang disepakati bersama. Interpretasi makna dibagikan dalam media-media yang menjadi rujukan-rujukan alternatif individu dalam perilaku kehidupannya. Seorang peneliti komunikasi sempat berujar “saya mulai melihat media mentransfer nilai-nilai korupsi menjadi “budaya” masyarakat Indonesia. Dengan maraknya pemberitaan tentang korupsi dibandingkan dengan pemberitaan lain, tanpa sadar media telah membuat kata “korupsi” menjadi sesuatu yang biasa saja, bukan lagi perilaku negatif yang harus kita lawan bersama

Disisi lain, regulasi media penyiaran penting untuk menjaga agar media penyiaran mempunyai kerangka yang baik dalam menjalankan perannya. Meski begitu person yang tepat dalam menafsirkan aturan juga penting untuk diperhatikan, agar paham dengan baik, mengapa penyiaran perlu ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya Gorontalo.

PENYIARAN NASIONAL & LOKAL

Pada masa perjuangan, penyiaran informasi dimulai sejak tahun 1925 hingga 1945 ketika Soekarno menyampaikan naskah proklamasi berhasil disiarkan oleh Gunawan melalui pemancar radio buatan sendiri. Pada tahun itulah kemudian pemerintah RI mendirikan RRI dan memilih Dokter Abdurrahman Saleh sebagai ketuanya. Pada masa ini penyiaran informasi menjadi amunisi signifikan pada pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbeda di zaman orde baru, yang melalui regulasinya, pemerintah memegang kendali penuh atas pendirian dan penyelenggaran penyiaran.

Di zaman Orde Baru di Gorontalo hanya memiliki 3 media siaran radio dan 1 stasiun relay TVRI. Perkembangan saat ini hamper mencapai 20 siaran radio dan 8 stasiun TV. Perkembangan yang luar biasa ini menunjukkan antusiasme para pemilik modal untuk berinvestasi di bidang penyiaran. Akibatnya memunculkan keragaman Informasi yang diterima masyarakat. Dengan keragaman informasi memungkinkan banyak topic yang menjadi tema interaksi di masyarakat. Individu-individu kemudian akan memilih satu diantara sekian informasi yang menjadi sandaran dalam keberlangsungan hidupnya, menjadikan topic-topik itu sebagai alasan untuk mengambil keputusan. Contohnya pada pemilihan umum, dengan banyaknya tokoh yang diinformasikan, individu kemudian memilih salah satu yang dianggapnya sesuai dengan standarisasi pilihan pribadinya. Bisa dibayangkan jika informasi dimonopoli? Apa yang terjadi dengan society? Apa yang akan menjadi latar belakang perkembangan kemanusiannya?

Kualitas individu ditentukan oleh kualitas Informasi yang diterima. Tokoh komunikasi, Prof. Deddy Mulayana dalam bukunya menyebutkan menyatakan kegelisahannya pada kualitas informasi TV Nasional. Mulyana menyatakan bagaimana kita bisa mengharapkan kualitas masyarakat Indonesia yang positif, jika masukan yang diberikan media cenderung negatif?[1] Pemikiran ini saya anggap kekhawatiran akan kualitas Informasi yang dibuat oleh masing-masing institusi media. Televisi yang lebih memilih memproduksi Infotainment ketimbang informasi-informasi humanis, keteladanan, dsb. Berapa banyak siaran tentang prestasi dibandingkan dengan siaran remeh temeh anak muda pacaran, orang selingkuh, cerai, dan sinetron-sintron, dan sebagainya?

Kualitas Informasi ditengah maraknya usaha media penyiaran menjadi sebuah keniscayaan. Media sebagai institusi harus bertanggung jawab atas informasi yang diberikan kepada masyarakat. Ini juga menjadi sesuatu yang penting diregulasi (bukan berarti menutup medianya). Media perlu ditemani oleh institusi seperti Komisi Penyiaran untuk mengingatkan jika mereka lupa, bahwa media merupakan instrument penting milik khalayak. Pengaruh media menjadi sesuatu yang luar, kita bisa melihat contohnya pada kasus Prita vs RS. Omni, Cicak vs Buaya 1, Protes Kenaikan harga BBM, Meninggalnya KH. Zainudin MZ, Utd. Jefri atau Uje, dsb. Bahkan opini publik bisa dikendalikan media dengan pemberitaannya. Namun, terlepas dari kontroversi, dapatkah kita membayangkan jika kita hidup tanpa ada radio dan TV?

Sesuai fungsinya, media penyiaran memiliki tiga fungsi penting, yaitu, hiburan, pendidikan dan Informasi. Fungsi-fungsi ini bisa berjalan utuh tentunya jika diperhatikan dengan baik oleh lembaga yang mengatur tentang penyiaran. Media selain membawa misi di tiga fungsi tersebut, juga harus menghidupi dirinya sebagai sebuah perusahaan yang professional. Kekuatan capital juga menjadi penentu akan konten informasi yang disampaikan media penyiaran. Namun uang tidak bisa dijadikan “Tuhan” dalam memilih informasi apa yang disampaikan kepada masyarakat. Disinilah KPI menjadi lembaga yang berfungsi mengingatkan media, tatkala mereka khilaf dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan.

Munculnya media baru dalam sebuah “global village” (meminjam istilah komunikasi)[2] menjadi tantangan tersendiri bagi penyiaran di Indonesia. Banyak asumsi dan fakta-fakta penelitian diantaranya yang menyebutkan jika media konvensional/lama mulai tidak dipercaya masyarakat. Maraknya citizen journalism seperti yang dilakukan salah seorang warga aceh yang merekam gambar tsunami memasuki rumahnya, merupakan fenomena menarik tentang penyiaran. Belum lagi munculnya Facebook, Twitter, Youtube, dan sebagainya, yang menghilangkat sekat privasi. Menjadikan internet sebagai “kawan baru” individu-individu modern. Perilaku individu-individu ini tanpa sadar mulai membentuk nilai-nilai dan norma baru di masyarakat kita, melihat dunia dari perspektif yang berbeda.

Terpaan media-media baru menjadi tantangan sendiri bagi dunia penyiaran nasional dan lokal, digitalisasi siaran juga menjadi diskursus menarik. Determinasi Teknologi menjadi sesuatu yang pasti terjadi. Regulasi harus diupdate untuk menjaga “kerangka” penyiaran yang tetap professional dan beretika Indonesia. Akan tetapi bukan berarti mencari kesalahan-kesalahan, tapi lebih pada menjaga nilai-nilai baru tetap sesuai dengan ke-Indonesiaan kita.

PENYIARAN DAN REGULASI

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa kalimatnya secara tegas menyebutkan frasa seperti “…memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial..”[3]. Penjabaran kalimat ini, salah satunya menurut saya disampaikan dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 yang menyebutkan: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Undang-undang 32 tentang penyiaran disusun berdasarkan pokok-pokok pikiran sebagai berikut[4]:

  1. Penyiaran harus mampu menjamin dan melindungi kebebasan berekspresi atau mengeluarkan pikiran secara lisan dan tertulis, termasuk menjamin kebebasan berkreasi dengan bertumpu pada asas keadilan, demokrasi, dan supremasi hukum;
  2. Penyiaran harus mencerminkan keadilan dan demokrasi dengan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban masyarakat ataupun pemerintah, termasuk hak asasi setiap individu/orang dengan menghormati dan tidak mengganggu hak individu/orang lain;
  3. Memperhatikan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, juga harus mempertimbangkan penyiaran sebagai lembaga ekonomi yang penting dan strategis, baik dalam skala nasional maupun internasional;
  4. Mengantisipasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, khususnya di bidang penyiaran, seperti teknologi digital, kompresi, komputerisasi, televisi kabel, satelit, internet, dan bentuk-bentuk khusus lain dalam penyelenggaraan siaran;
  5. Lebih memberdayakan masyarakat untuk melakukan kontrol sosial dan berpartisipasi dalam memajukan penyiaran nasional; untuk itu, dibentuk Komisi Penyiaran Indonesia yang menampung aspirasi masyarakat dan mewakili kepentingan publik akan penyiaran;
  6. Penyiaran mempunyai kaitan erat dengan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit geostasioner yang merupakan sumber daya alam yang terbatas sehingga pemanfaatannya perlu diatur secara efektif dan efisien;
  7. Pengembangan penyiaran diarahkan pada terciptanya siaran yang berkualitas, bermartabat, mampu menyerap, dan merefleksikan aspirasi masyarakat yang beraneka ragam, untuk meningkatkan daya tangkal masyarakat terhadap pengaruh buruk nilai budaya asing.

Tertib untuk kemakmuran. Dasar itulah yang menjadi acuan bagi dibentuknya Komisi Penyiaran Indonesia. Bahkan dalam UU 32 tahun 2002 tentang penyiaran, dalam pertimbangan awal para penyusun Undang-Undang menyebutkan kalimat yang intinya kemerdekan dalam menyampaikan dan menerima Informasi, sementara keterbatasan resource dalam hal ini frekuensi, menjadi pertimbangan kedua.

Dengan latar belakang seperti itulah, menurut saya “rakyat” menjadi komoditas tujuan akan regulasi yang ditetapkan pemerintah dalam aturan-aturan penyiaran. Keinginan melindungi warga dari invasi informasi yang akan merusak tatanan kehidupan masyarakat Indonesia menjadi tujuan utama. Pernahkah kita bertanya, jika semua lembaga penyiaran memberikan informasi yang berguna untuk rakyat sehingga terjadi peningkatan kualitas hidup, apakah regulasi masih diperlukan?

Semangat dibentuknya Komisi Penyiaran Indonesia adalah, pengelolaan sistem penyiaran yang merupakan ranah publik harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan[5]. Campur tangan pemodal dan kepentingan Kekuasaan yang dimaksud tentu saja kelompok yang ingin melakukan monopli Informasi. Kepentingan kekuasan adalah “trauma” monopli informasi di era Orde Baru, dimana pemerintah memegang kendali atas segala aktivitas penyiaran.

Meski masih ada benturan kewenangan antara Komisi Penyiaran Indonesia dan Kementrian Komunikasi dan Informatika baik dipusat maupun sub ordinat instansi tersebut di daerah, akan tetapi regulasi akan penyiaran perlu untuk di apresiasi dengan baik, sembari tetap melakukan pembenahan-pembenahan pada kekurangan regulasi yang tidak berpihak pada, kesejahteraan umum, kedaulatan rakyat mendapatkan Informasi dan keadilan social.

Apresiasi aturan penyiaran juga wajib diberikan dengan adanya regulasi penyiaran yang memberikan ruang pengembangan dan peningkatan potensi penyiaran lokal. Sentralistik penyiaran secara nasional, berakibat terabaikannya hak sosial-budaya masyarakat lokal (baca: daerah). Banyak pihak yang mungkin lupa, keberagaman budaya di Indonesia perlu untuk dilestarikan. Kekayaan negeri ini terletak pada budaya massa-nya. Indonesia bukan hanya Jakarta, Sulawesi bukan hanya Makassar dan Manado atau Jawa bukan hanya Surabaya.

Setiap kelompok masyarakat mempunyai tradisi tersendiri. Bahkan Gorontalo bukan hanya satu tradisi, ada budaya Limutu, Hulonthalo, Bone, Atinggola, Boalemo, Pohuwato dan masih banyak lagi. Apakah regulasi ramah terhadap tradisi? Atau malah menghancurkan tradisi? Penafsirannya terletak pada individu-individu yang menginterpretasi dan menerapkan aturan.

Ada banyak aturan yang membingkai penyelenggaran praktek penyiaran di Indonesia. Layaknya bingkai, aturan-aturan ini menjadi norma yang wajib ditepati oleh insan penyiaran di Indonesia. Penerapan norma bukanlah sesuatu yang bersifat fisik, tetapi lebih merupakan pemahaman bersama antara lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan penyiaran (media) dan lembaga yang mengatur regulasi tentang penyiaran.


[1] Kata Pengantar, Komunikasi Massa, terbitan Rosda Bandung

[2] Marshall McLuhan (1962) menyebut Global Village sebagai sebuah kelompok yang terhubung secara global dan tidak bertatap muka setelah munculnya teknologi Mesin Cetak Gutenberg.

[3] Naskah Pembukaan UUD 1945

[4] Penjelasan UU 32 tahun 2002 tentang Penyiaran

[5] Situs Komisi Penyiaran Indonesia, diakses pada 26 April 2013

Advertisements

Gorontalo, Berdoalah : Antara Fadel Muhammad dan Suharso Monoarfa

Posted in Umum with tags , , , , , , , , , on October 19, 2009 by Mohamad Reza

Fadel Muhammad

Fadel Muhammad

Lama sekali diskusi dikalangan para mahasiswa pasca Gorontalo di Bandung tentang apakah Fadel akan jadi Menteri atau tidak pada kabinet SBY-Boediono. Wajar saja, mengingat pemberitaan media menteri juga sangat gencar, sejak SBY membuka audisi menteri-menterinya di Puri Cikeas Bogor (kediaman SBY). Sejak hari pertama dibuka audisi tersebut, Gubernur pertama yang menerima undangan SBY adalah Gamawan Fauzi (Gubernur Sumatera Barat) yang juga menjadi pembaca deklarasi SBY-Boediono ketika maju menjadi Capres-Cawapres pada pilpres kemarin. Di hari kedua muncul nama Suharso Monoarfa, tokoh Gorontalo yang saat ini menjadi bendahara DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Kandidat Ph.D di Curtin University Of Tecnology, Perth Australia. Sejumlah nama terus bermuncul hingga mencapai sekitar 30 orang, akan tetapi nama Fadel saat itu juga belum muncul.

Dihari ketiga pukul 14.20 baru kemudian muncullah sang Gubernur “Jagung” Gorontalo, Dr. Fadel Muhammad. Kemunculan Fadel berarti menjadikan partai Golkar mengutus 3 nama, masing-masing Agung Laksono, M.S Hidayat (kalangan profesional yang diusung Golkar) dan Fadel tentunya.

Fadel dan Suharso, meski dari partai yang berbeda menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat Gorontalo akan perwakilan mereka di kabinet SBY-Boediono. Fadel diprediksikan ke Menteri Perikanan dan kelautan sementara Suharso diprediksi bakal ke Menteri Perumahan Rakyat. Meski belum tentu menjadi menteri (mengingat ini baru tahap audisi) akan tetapi secara politik Fadel dan Suharso sudah membuktikan bahwa mereka berdua mempunyai “political networking” yang cukup mapan di pentas politik nasional. Diakui atau tidak kita harus menerima fakta tersebut dengan ikhlas.

Akan tetapi harapan masyarakat Gorontalo, tidak perlu terlalu besar digantungkan kepada kedua tokoh ini, perkembangan Gorontalo secara signifikan harus dipahami berada ditangan masyarakat itu sendiri. Sedikit “menjiplak” dari Al Quran bahwa “….Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. 13:11). Saya teringat pernah berdiskusi dengan Ka Harso (sebutan saya untuk Suharso Monoarfa) dirumah beliau di Telaga.

Syukuran Suharso Monoarfa

“Jika masuk di pentas nasional, kita akan berpikir dan berbicara tentang Aorta bukan Arteri. Jadi sempit pemikiran orang jika berpikir ada perwakilan Gorontalo dipusat hanya untuk mendatangkan proyek atau uang ke Gorontalo.”

Persepsi saya tentang aorta adalah Indonesia sebagai sebuah negara, bukan bicara dalam landscape daerah. Dalam diskusi kami malam itu saya menyimpulkan bahwa jika negara “sejahtera” secara umum, otomatis itu akan berdampak pada kemakmuran Gorontalo, karena Gorontalo adalah part of Indonesia.

Fadel Meninggalkan Gorontalo?

(Maaf) Jika hanya mengikuti perkembangan media di Gorontalo, maka semua orang pasti akan bilang Fadel akan meninggalkan Gorontalo karena tidak tahan dengan situasi politik Gorontalo yang terus menerus berubah menyudutkan Fadel. Tapi saya kira ini tidak demikian adanya. Kalo dilihat dalam perspektif politik wajar jika ada intrik dalam politik. Tidak sedikit pula masyrakat Gorontalo yang kecewa dengan jika Fadel benar-benar jadi menteri. Hal ini disebabkan dalam politik ada yang dinamakan Dan Nimmo dengan pengharapan personal. Pengharapan personal ini menurut Nimmo, adalah sesuatu yang paling penting dalam politik, jika harapan tinggi kemudian penampilan tokoh/pemimpin dalam peristiwa itu tidak sesuai maka orag kecewa dan meremehkan politikus.

Mayoritas suara yang berhasil diperoleh Fadel pada pemilihan Gubernur menunjukkan betapa tingginya harapan masyarakat. Dan karena Fadel adalah seorang politikus yang diatas sudah kita akui, maka saya pikir sangat tidak mungkin Fadel mengabaikan begitu saja harapan masyarakat Gorontalo. Kepntingan yang saya maksud bukan saja kepentingan proyek dan uang, sebab hal tersebut harus diakui salurannya belum benar-benar berjalan baik, masih membutuhkan perbaikan sehingga lumut-lumut atau benalu yang menempel disaluran itu bisa benar-benar bersih.

Saya pikir jika Suharso atau Fadel benar-benar menjadi menteri, maka kita hanya bisa berdoa agar kedua tokoh ini bisa melakukan aksi-aksi strategis sesuai bidang yang dipercayakan untuk mewujudkan kemajuan Indonesia dalam memakmurkan rakyatnya secara adil dan bijaksana.

Penyiar HARUS Berwawasan LUAS

Posted in Penyiar with tags , , , , , , on October 10, 2009 by Mohamad Reza

Studio Siaran

Studio Siaran

Teman-teman, kata “HARUS” dalam judul diatas sengaja saya bikin dalam huruf besar, mengingat yang namanya wawasan/pengetahuan sangat penting untuk seorang penyiar. Menggunakan sumber/referensi dari buku manapun, wawasan/pengetahuan menjadi sebuah standar utama untuk menjadi seorang penyiar. Tidak tanggung-tanggung, meski belum menjadi sebuah keharusan diseluruh radio stasiun, tapi beberapa radio mulai mewajibkan persyaratan penyiar lulusan perguruan tinggi jurusan broadcast.

Mengapa berpengetahuan luas?, hal ini sangat penting agar penyiar tahu apa yang sedang dia bicarakan. Seorang penyiar yang hanya membawakan program musik-pun tetap membutuhkan pengetahuan/ wawasan tentang musik, tentang artist, singer, album, kenapa album itu diciptakan, tahun berapa muncul, makna lagu, genre lagu, dsb.

Maksud saya dengan wawasan/pengetahuan bukanlah sesuatu yang harus menghapal rumus matematika, kimia, fisika, biologi, atau berbagai macam yang rumit-rumit (sayapun tidak terlalu pintar dgn pelajaran2 diatas..hehehe), akan tetapi wawasan/pengetahuan yang saya maksud disini adalah Segala sesuatu yang berhubungan dengan PENDENGAR dan FORMAT radio anda.

Jika radio anda adalah radio MUSIK, maka penting untuk anda mempelajari para musisi, mulai dari genre, lagu hits, asal mereka, jumlah album, tongkrongan, hingga riwayat terciptnya lagu tersebut. Penyiar juga bisa mengambil sampel atau contoh hidup para musisi (tapi ingat, untuk gaya hidup anda harus memberikan contoh-contoh positif, karena pertanggungjawaban media adalah moral pendengarnya). Anda bisa bayangkan jika anda adalah penyiar radio format musik, dan anda hanya tahu Judul Lagu dan penyanyinya saja, mungkin penyiarnya hanya akan bilang..

“Listener, for the next song, saya punya Jason Mraz -Make it Mine”,

bandingkan dengan,

“Listener, next, saya kasih single terbaru dari musisi asal Virginia. Our singer yang satu ini baru saja tampil di Lupaluna Festival Brasil di 9 oktober kemarin. Yup, Jason Mraz dengan Make it Mine” (it’s better don’t you?)

Begitu pula jika anda adalah seorang penyiar di radio dengan format Talkshow. Penting untuk anda mempunyai wawasan/pengetahuan yang lebih sesuai dengan program yang ada diradio tersebut. Pengetahuan anda bisa seputar politik, ekonomi, hukum, sosial, dsb. Ini menjadi penting agar anda tidak dimanfaatkan Narasumber ketika ada talkshow. Banyak sumber, khususnya politisi/pejabat pemerintah yang suka memanfaatkan penyiar yang tidak paham akan masalah yang diperbincangkan, biasanya fakta akan kabur, dan lucunya penyiar tidak akan sadar tentang hal itu…

Bagaimana agar mempunyai pengetahun/wawasan yang baik?

Untuk mendapatkan pengetahuan sebenarnya tidak pernah ada kata terlambat, tidak harus berada diruang kelas, kita cukup memulai dari niat ingin belajar dan tidak terlena akan sesuatu yang kita tahu. Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah:

1. Bacalah

Sebenarnya ungkapan ini klasik, tapi DAHSYAT. Untuk umat islam mungkin ini menjadi sebuah ayat pertama yang turun pada kita suci Al Qur’an, yaitu Iqra’ (bacalah). Membaca apapun, buku, majalah, komik, novel, koran, internet, dll. Saya tidak meminta anda dalam sehari menghabiskan 1 buku, paling tidak ada 1 halaman atau 1 topik yang anda baca dan PAHAM. Membaca juga menambah KOSA KATA, dan itu penting untuk penyiar agar tidak kehabisan kata, atau meminimalisir munculnya kata emm…eeee..ooo yang tidak bermakna. Munculnya kata itu salah satu faktornya karena penyiar kekurangan kata untuk menggambarkan kepada pendengar.

2. Dengarkan

Mendengarkan maksud saya disini adalah mendengarkan siaran radio, live streaming, dll. Meski anda seorang penyiar, anda perlu untuk mendengarkan siaran orang lain, ini PENTING. Selain anda bisa tahu apa yang disampaikan orang dalam siaran, anda juga bisa belajar dari kesalahan penyiar lain. Biasanya manusia apalagi se profesi, suka mendengarkan dan mengingat kekeliruan orang lain, paling tidak ini menjadi contoh untuk diri kita, sehingga kita tidak seperti itu saat menyiar. Bisa jadi info yang kita dapatkan bisa menambah pengetahuan kita akan sesuatu..

3. Tontonlah

Menonton TV, Bioskop, VCD, DVD, ini juga penting. Anda bisa mendapatkan informasi, dan jika anda menonton film, paling tidak anda mendapatkan pengetahuan tentang film itu, sehingga ketika meresensinya, anda tidak perlu pusing. Jika menononton film barat, paling tidak ada 1-2 kalimat yang bisa anda gunakan/hafal.

4. Belajar dari Orang Lain

Sometimes kita mengabaikan orang yang disekitar kita, padahal pendengar sangat suka mendengarkan sesuatu yang berhubungan dengan sekitarnya. Maka BERGAUL lah. Penyiar harus bergaul dengan siapapun dan belajarlah dari sekitar kita, dengan begitu kita akan tahu kehidupan sosial masyarakat sekitar, darisitulah kita bisa tau, apa yang bisa dan tidak bisa disampaikan sehingga tidak menyinggung pendengar kita. Dan kita juga bisa mengambil info yang pas dengan kehidupan sosial kita dan yang paling penting adalah BERPENGARUH untuk pendengar.

Two Step – Pendengar & Pengiklan

Posted in marketing with tags , , , on December 19, 2008 by Mohamad Reza

Membuat satu radio stasiun adalah sebuah bisnis yang tidak mudah. Mendirikannya tentu saja gampang, kita tinggal menyediakan modal dari 500 jt hingga miliaran rupiah, kita kemudian bisa membuat radio itu hingga dia berada di udara.

Tapi kemudian sebagai satu bisnis ini adalah hal yang tidak mudah, apalagi untuk bisnis jasa seperti radio. Mungkin saya tidak terlalu paham tentang bisnis lainnya, tapi untuk radio saya mungkin bisa menjelaskannya kepada anda.

Radio adalah bisnis 2 tahapan, tahapan yang pertama adalah kita berbisnis dengan pendengar. Meski pendengar tidak membeli program kita dengan uang, akan tetapi yang harus kita pahami, kita harus bisa menyediakan program yang benar-benar mau “dibeli” oleh pendengar kita. Kita harus bisa meng-create sesuatu yang betul-betul patut untuk dibeli. Ini juga harus disesuaikan dengan siapa yang kita inginkan membeli program kita. setelah kita menentukan target pemasaran program kita (dalam hal ini pendengar, red) maka mulailah kita melakukan perancangan atau design program yang kira-kira akan “dibeli” pendengar. Pendengar membayar kita dengan waktu yang dia habiskan mendengarkan radio kita, sesuai hasil riset rata-rata pendengar menghabiskan waktu mereka mendengarkan radio diantara 1 – 2,5 jam. Waktu ini yang merupakan bayaran para pendengar untuk kita, sehingga kita juga harus memberikan produk yang benar-benar disukai mereka, karena jika tidak seperti itu, tentulah pendengar tidak akan mau “membeli” atau menghabiskan waktunya mendengarkan radio kita.

Setelah kita mempunyai pendengar maka tahapan penjualan selanjutnya adalah pengiklan. Setiap pengiklan (klien radio, red) itu biasanya akan bertanya, berapa banyak pendengar anda? dan siapa pendengar anda? atau biasanya mereka merujuk ke satu organisasi research seperti AC Nielsen. Nah, jika bisnis anda dengan pendengar laku, maka otomatis pengiklan pun akan datang kepada anda dan menawarkan agar produknya dipromosikan ke radio anda.

Jadi, kuncinya adalah, sukseskan dahulu bisnis anda dengan pendengar, sehinggan nanti anda akan sukses dengan pengiklan anda. Sebab yang akan dijual kepada pengiklan semata-mata hanyalah PENDENGAR.

Halooo Semua

Posted in Umum with tags , , , , on November 30, 2008 by Mohamad Reza

Mohamad Reza

Mohamad Reza

“Alooo..selamat pagi semua… Senang sekali bisa kembali hadir untuk anda dalam sebuah program yang memberikan informasi untuk kebutuhan hari ini. Sebelum menjalani aktivitas hari ini, jangan lupa untuk kembali mengecek segala peralatan yang akan membantu anda dalam beraktivitas……

Ini merupakan salah satu pengantar dari buaaanyak pengantar para penyiar (kadang diistilahkan DJ dibeberapa radio) dalam memulai siarannya.

Dunia Radio mungkin sudah menjadi hal biasa bagi yang menggeluti, akan tetapi menjadi sesuatu yang luar biasa bagi banyak orang yang tidak tahu, suka, bahkan ingin sekali bergabung dengan salah satu radio favorit. Meski harus diakui, dari ratusan radio yang ada ditanah air, sebagian besar para penyiarnya hanya menjadikan radio sebagai salah satu tempat untuk menyalurkan hobby-nya yang suka cuap-cuap, bergaul, cari pengalaman dsb. Jarang sekali orang yang menjadikan radio sebagai tempat untuk bekerja.

So Far, it’s ok. jadi tempat bekerja atau sekedar menjadikan sampingan, radio juga perlu dikenali dengan baik untuk yang ingin ikut bergabung didalamnya. Menjadi bagian dari satu radio, bukan berarti hanya perlu mengenal bagian tertentu. Paling tidak, kita tahu sacara umum, apa sebenarnya Radio secara keseluruhan.

Blog ini ditujukan untuk anda yang ingin mengetahui secara jelas dan mungkin ingin mencari tahu, bagaimana bekerja di radio.