Archive for Buzzsaw

Belajar dari “STATE of PLAY”

Posted in Umum with tags , , , , , , , on October 18, 2009 by Mohamad Reza

Film Directed by Kevin Macdonald, and Writen  by Matthew Michael Carnahan

State of Play

State of Play

Film ini dalam pandangan saya merupakan satu hal yang sangat luar biasa. Bukan saja dari segi audio visual yang menarik dan didukung oleh para pemain profesional sekelas Russel Crowe dan Ben Affleck tapi film ini juga berhasil mendeskripsikan sebuah perjalanan media mengungkan sebuah “fakta” yang sebenarnya.  Cal McAffrey (diperankan Russel Crowe) adalah seorang Jurnalis Washington Globe. Dalam film tersebut diawali dengan upaya Cal menyelidiki sebuah pembunuhan, yang akhirnya pada ending film tersebut sangat berkaitan langsung dengan seorang senator dari partai republik Stephen Collins (diperankan Ben Affleck).

Saya tidak akan menceritakan adegan dalam film itu satu persatu, karena nantinya tidak akan menarik lagi ditonton. Akan tetapi, Cal sebagai seorang wartawan/jurnalis profesional diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit sekali diputuskan “mungkin” oleh para jurnalis/wartawan pada dunia yang sebenarnya. Persahabatan Cal dengan Collins membuat Cal secara langsung membantu sahabatnya ketika diserang isu perselingkuhan oleh media-media lainnya. Dari memberikan nasehat apa yang harus dilakukan Collins sampai dengan memperlihatkan hasil rekaman wawancara dengan narasumber dilakukan Cal untuk Collins. Itu semua dilakukan Cal dengan atas nama persahabatan dan upaya menebus kesalahan Cal yang pernah ada “affair” dengan istri Collins, Anne Collins (diperankan Robin Wright Penn) yang juga merupakan sahabat Cal. Hebatnya film ini tidak menyediakan adegan perselingkuhan Call/Collins, yang menurut interpretasi saya, film ini memberikan kritik secara tidak langsung bahwa relationship between people adalah ranah privacy yang bukan menjadi hal umum untuk dikonsumsi publik.

Actually, rata-rata wartawan/jurnalis pasti punya teman di kongress (baca legislatif), khususnya bagi mereka yang meliput di DPR/DPD atau DPRD. Nilai persahabatan atau pertemanan ini secara tidak langsung mempengaruhi pemberitaan, tapi film ini juga memperlihatkan betapa nilai pertemanan dan persahabatan membuat Cal menjadi seorang wartawan yang bisa dengan mudah mendapatkan informasi apapun yang dia inginkan. Kebalikannya, teman wartawan Cal, Della Frye (diperankan Rachel McAdams) sulit sekali mendapatkan informasi tentang sesuatu karena tidak mempunyai akses tertentu. Peta konflik “nilai” (pribadi dan profesional) ini menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan jurnalis. Tapi ini harus segera diatas, karena apapun bentuk “hambatan” terhadap upaya pengungkapan kebenaran maka publik perlu tahu fakta secara UTUH. Nilai persahabatan yang diunggulkan Cal hampir saja merusak nilai kebenaran sebuah berita. Cal hampir mengkonstruksi cerita tentang konspirasi korporat yang diceritakan Collins. Keterkaitan bukti-bukti yang didapatkan dilapangan oleh tim Cal dikatikan dengan wawancara resmi Collins hampir menguburkan kebenaran berita. Para penonton pun pasti akan menyatakan YA pada fakta yang dibangun Collins. Tapi ini juga menggambarkan, betapa media hampir setiap hari dimanfaatkan oleh para politisi atau wakil politisi. Media menjadi sesuatu yang sangat potensial untuk dimanfaatkan, dari tiga bias yang jelas melekat dalam jurnalisme, satu diantaranya adalah Jurnalis memperhitungkan apapun yang dilakukan sumber-sumber resmi (baca: McChesney, Into the Buzzsaw: Leading  Journalist Expose, 2004:528)

Film ini juga menggambarkan bagaimana seorang wartawan diperhadapkan pada kepentingan institusi media. Persoalan oplah atau penjualan, iklan, saham, relasi pemilik modal dsb. Masalah-masalah tersebut membuat banyak wartawan akan sulit bergerak memperjuangkan kebenaran sebuah berita. Peran pemimpin redaksi yang tegas akan sebuah irama “kebenaran” tentunya dibutuhkan. Kompetensi pemimpin redaksi sebuah media juga membutuhkan perhatian khusus dari institusi media. Saya pernah tersenyum, ketika teman saya seorang pemred media cetak berkata “kepentingan kami adalah menyajikan fakta dengan benar, tapi kemudian kami juga harus memikirkan bagaimana media ini berkembang dan maju”.

Hampir seluruh wartawan/jurnalis di Indonesia pernah secara sadar atau tidak pernah mengalami sesuatu yang dialami oleh Cal. Tuntutan menyampaikan berita secara seimbang, kebenaran sempurna, membantu sahabat, tekanan editor, pengaruh pemilik media, dsb. Namun hal ini seharusnya diletakkan bukan pada skala kepentingan penyampaian informasi yang akurat.

Advertisements