Archive for the marketing Category

Two Step – Pendengar & Pengiklan

Posted in marketing with tags , , , on December 19, 2008 by Mohamad Reza

Membuat satu radio stasiun adalah sebuah bisnis yang tidak mudah. Mendirikannya tentu saja gampang, kita tinggal menyediakan modal dari 500 jt hingga miliaran rupiah, kita kemudian bisa membuat radio itu hingga dia berada di udara.

Tapi kemudian sebagai satu bisnis ini adalah hal yang tidak mudah, apalagi untuk bisnis jasa seperti radio. Mungkin saya tidak terlalu paham tentang bisnis lainnya, tapi untuk radio saya mungkin bisa menjelaskannya kepada anda.

Radio adalah bisnis 2 tahapan, tahapan yang pertama adalah kita berbisnis dengan pendengar. Meski pendengar tidak membeli program kita dengan uang, akan tetapi yang harus kita pahami, kita harus bisa menyediakan program yang benar-benar mau “dibeli” oleh pendengar kita. Kita harus bisa meng-create sesuatu yang betul-betul patut untuk dibeli. Ini juga harus disesuaikan dengan siapa yang kita inginkan membeli program kita. setelah kita menentukan target pemasaran program kita (dalam hal ini pendengar, red) maka mulailah kita melakukan perancangan atau design program yang kira-kira akan “dibeli” pendengar. Pendengar membayar kita dengan waktu yang dia habiskan mendengarkan radio kita, sesuai hasil riset rata-rata pendengar menghabiskan waktu mereka mendengarkan radio diantara 1 – 2,5 jam. Waktu ini yang merupakan bayaran para pendengar untuk kita, sehingga kita juga harus memberikan produk yang benar-benar disukai mereka, karena jika tidak seperti itu, tentulah pendengar tidak akan mau “membeli” atau menghabiskan waktunya mendengarkan radio kita.

Setelah kita mempunyai pendengar maka tahapan penjualan selanjutnya adalah pengiklan. Setiap pengiklan (klien radio, red) itu biasanya akan bertanya, berapa banyak pendengar anda? dan siapa pendengar anda? atau biasanya mereka merujuk ke satu organisasi research seperti AC Nielsen. Nah, jika bisnis anda dengan pendengar laku, maka otomatis pengiklan pun akan datang kepada anda dan menawarkan agar produknya dipromosikan ke radio anda.

Jadi, kuncinya adalah, sukseskan dahulu bisnis anda dengan pendengar, sehinggan nanti anda akan sukses dengan pengiklan anda. Sebab yang akan dijual kepada pengiklan semata-mata hanyalah PENDENGAR.

Advertisements

Marketing Radio atau Account Executive

Posted in marketing with tags , , , on December 13, 2008 by Mohamad Reza

Profesi yang satu ini paling susah didapat dan langka untuk dunia broadcast radio. Maklum, identifikasi kata Account Executive/AE adalah “sales” dalam istilah awam yang seringkali dianggap sebagai pekerjaan yang paling susah di Radio.

Menjadi AE memang merupakan sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketekunan. Yang paling penting adalah menguasai produk dari Radio tersebut. Karena radio adalah sebuah perusahaan jasa, otomatis yang dijual adalah jasa dan bukan barang (beda dengan jualan rokok, jualan pisang, dll)
Hampir semua radio di Indonesia mempunyai masalah yang sama dalam mencari seorang AE yang benar-benar handal dan mencintai pekerjaannya. Rata-rata di beberapa radio bahkan direktur, manager turun tangan dalam urusan penjualan jasa radio.

Jika ingin menjadi AE, maka pertanyaan yang pertama adalah apa yang menjadi PRODUK dari radio tersebut?, pertanyaan ini harus anda jawab sebelum anda bicara lebih lanjut tentang penjualan radio.

Produk Radio adalah PENDENGAR, berapa jumlah pendengar adalah merupakan hal yang perlu anda ketahui ketika berhadap dengan klien anda. Untuk mengetahui ini tentunya membutuhkan riset atau penelitian yang biasanya dilaksanakan oleh lembaga survey seperti AC Nielsen atau bisa juga dilakukan sendiri dengan bantuan pakar penelitian (kalangan akademisi kampus).

Dibandingkan dengan TV, pendengar Radio saat ini memang jauh dibawah rata-rata, hal ini menurut saya karena banyak radio yang tidak tahu atau tidak mengerti tentang bisnis yang digelutinya. Sesuai data dari AC Nielsen tahun 2005, Konsumsi media masyarakat lebih banyak untuk TV sekitar 82 persen. Sementara masyarakat yang mendengarkan radio hanya sekitar 38 persen.

Hal ini sangat berbanding terbalik dengan negara-negara maju seperti di USA dan Belanda. Semisal di Belanda sesuai data European Interactive Ad Asc, konsumsi radio lebih besar sekitar 18,2 persen dibandingkan dengan TV yang hanya sekitar 15,4 persen.

Di Indonesia juga saat ini belanja Iklan TV lebih banyak dibandingkan dengan belanja iklan radio. Sejak tahun 2004 TV mengungguli radio dengan perolehan belanja iklan sekitar 61,3 persen dan radio hanya 2,4 persen. Jumlah ini terus menurun pada tahun 2008, untuk TV 58,3 persen sementara radio hanya 1,3 persen (sumber: media scene 2007-2008).
Dalam sebuah diskusi di Bali, Andrus Roestam Munaf, salah seorang pemateri tentang bagaimana mengmbangkan bisnis radio ini sempat mempertanyakan kepada sekitar 85 orang pemilik radio, bahwa banyak kita (baca: pemilik radio) yang belum paham tentang apa sebenarnya bisnis radio tersebut. Hal ini tentu saja berpengaruh pada AE yang akan mengeksekusi penjualan radio di lapangan.

Setelah mengetahui dengan persis produk radio kita (pendengar) maka tentu AE akan mempelajari psotioning, program dari radio sendiri. Hal inilah kemudian yang akan dibawa ke pengiklan untuk mempromosikan produknya melalui radio. Rata-rata pengiklan pasti akan bertanya “Berapa banyak pendengar anda” dan kemudian “ini radio apa”. Untuk menjawabnya tentunya seorang AE harus betul-betul mempunyai komunikasi interpersonal dan penguasaan tentang data radio yang baik sehingga membuat pengiklan tertarik untuk mempromosikan produknya.