Luna Maya Vs Infotainment: Psikologi Manusia lawan Arogansi Media

Luna Maya

Belum lagi selesai Kasus PRITA dengan UU ITE dan perlawanan KOIN, tiba-tiba Indonesa dihentakkan dengan pernyataan Luna Maya yang membuat MURKA para pekerja Infotainment. Berawal dari statement Luna Maya melalui akun twitternya pada hari Selasa 15 Desember pukul 00.00 WIB

“Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PEL*C*R, PEMB*N*H!!!! may ur soul burn in hell!!,….” (maaf, symbol bintang saya sisipkan soalnya UU ITE belum dicabut..hehehhehehe)

Membuat kelompok pekerja Infotainment melakukan rapat mendadak dan melaporkan Luna Maya ke polisi dengan pencemaran nama baik serta UU ITE. Ironisnya, dua aturan inilah yang lagi jadi perbincangan dalam kasus PRITA serta kelompok-kelompok jurnalis yang idealis (AJI, misalnya) sedang perjuangkan untuk dihapuskan. Aturan ini dianggap melawan kebebasan berekspresi dan berpendapat serta mengancam pekerjaan para jurnalis/wartawan. Yang lebih disayangkan semua orang, oknum di PWI malah mendukung pelaporan para kelompok pekerja infotainment ini ke polisi. Bahkan dalam liputan detikcom salah seorang pengurusnya menyamakan kasus ini dengan copet.

Mungkin Luna Maya emosi (ini asumsi saya) jika melihat kronologis kejadian sebelum Luna marah dan menuliskan kalimat tersebut di akun twitternya, dan saat dia sadar tulisannya akan membuat kontroversi, maka dia pun lantas menuliskan kalimat ini di akun twitternya, sebelum akunnya dihapus.

“Maaf yaa semua untuk twit yg gak penting itu, tp untuk yg mengerti makasih bgt, tp untuk yg gak ngerti jg maaf…,”

Harus diakui, bahwa ada kekeliruan yang dilakukan Luna Maya dengan mengekspresikan emosinya melalaui ruang publik (twitter mask kategori ruang publik bgtu pula FB karna banyak yang mengakses dan melihatnya)..tapi kemudian dalam setiap kejadian kita tidak boleh sepihak menyatakan ungkapan itu sudah serta merta benar. Luna mungkin saat ini dikuasai emosi dan setiap manusia pasti punya itu, Jalaludin Rakhmat menjelaskan emosi menunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala kesadaran, keprilakukan dan proses fisiologis (Psikologi Komunikasi, 2004:40).

Alur kejadian dalam kasus Luna tidak bisa kita abaikan begitu saja, kemudian dengan dalih profesi melakukan persepsi secara sepihak mengambil keputusan menjustifikasi sesuatu, karena riwayat atau alur penting untuk menjelaskan kenapa Luna berbuat seperti itu. Jika saja, tidak ada kejadian sebelumnya, mungkin tidak ada ungkapan Luna tersebut.

Pekerja Infotainment adalah Wartawan?

Sebenarnya diskusi tentang ini sudah lama sekali terjadi, dan kemudian muncul lagi gara-gara kasus Luna Maya terjadi. Beberapa oknum pengurus PWI di liputan media jelas-jelas menyatakan dukungannya bahkan ikut mendampingi pekerja infotainment ke polisi… Sementara disisi lain kelompok Aliansi Jurnalis Independen (AJI) cenderung menyatakan WAJAR apa yang dilakukan Luna Maya,atau terkesan memakluminya (berita Detikhot, 18/12)

Di kelompok para jurnalis/wartawan memang profesi para pekerja infotainment masih diperdebatkan. Cobalah anda baca Tempo dan Kompas, media itu menyebutnya kelompok infotainment dengan “pekerja infotainment” sementara kalau anda baca Detik mereka menyebutnya “Wartawan Infotainment”. Hal ini cukup memberikan bukti bahwa ada dua kelompok yang berbeda menyikapi profesi di infotainment tersebut. Ada alasan yang mengungkapkan bahwa wartawan itu bekerja untuk kepentingan publik, sementara infotainment bekerja untuk apa? saya juga belum menemukan alasannya (jika nanti ada penjelasan mohon ditambahkan pada komentar)…

Dalam sebuah diskusi di halaman “Dukung LUNA MAYA LAWAN INFOTAINMENT” yang menarik ada seorang yang mengaku pekerja infotainment yang menyatakan seperti ini,

“Media hiburan (infotainment) memberitakan kekurangan artis/selebritis (kawin cerai dll) justru agar tidak diulangi oleh artis/selebritis lain…….seperti media utama memberitakan kasus-kasus korupsi, manipulasi agar yang lain/tokoh publik tidak melakukan hal sama…..sepertinya banyak orang tak paham dengan iidealisme ini. Artis/selebritis juga perlu dipantau perilakunya……..!!!”

Dari sini saya mencoba mencari perbandingan, benarkah berita kasus korupsi untuk kepentingan publik sama dengan berita kasus perceraian artis?

Belum lagi jika saya membaca Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang : Hak Asasi Manusia, disitu dijelaskan:

“Hak Asasi Manusia adalah seprearangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tugas Yang Mha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati,dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukun, Pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.”

Jika perceraian menjadi trend di infotainment misalnya saya kemudian mencoba menimbang Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang : Hak Asasi Manusia Pasal 10:

“Setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui pernikahan yang sah.”

Nah, jika menikah merupakan hak orang lain, ngapain kita turut campur dengan mempertontonkan ke publik, apa tujuannya kira2? apakah ingin publik untuk tidak mencontoh dengan mempertontokan pribadi orang? Dhani-Maia, KD-Anang, Dewi Persik-Aldy, semua cerai, lantas kenapa? apa gunanya untuk kehidupan publik? Luna Maya mau nikah sama Ariel, atau pacaran atau apalah namanya, apa urusannya dengan publik? bukankah itu hak mereka?

Prof. Deddy Mulyana dalam bukunya Komunikasi Massa menjelaskan:

“….bangsa kita tetap akan loyo seperti ini juga hingga kapanpun. Keluaran (output) bergantung pada masukan (in put). Kalau masyarakat kita setiap hari dijejali dengan masukan berupa gambar….berita remeh temeh tentang selebritis kita….lalu apa keluarannya? sungguh naif jika kita mengharapkan mereka akan berubah, berdisiplin,cerdas, kreatif,jujur, bertanggung jawab,berdedikasi, dsb.”

belum lagi jika kita baca Undang-undang penyiaran (nomor 32 tahun 2002) Pasal 36 ayat 1 dan 5:

(1) Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan  kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

(5) Isi siaran dilarang : a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong; b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalah-gunaan narkotika dan obat terlarang; atau c. mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan.

Tapi kenapa infotainment tiba-tiba bukannya berkurang malah menjadi banyak?, meminjam istilah Prof. Deddy, bahwa infotainment itu memenuhi naluri primitif manusia, yaitu tertarik pada misteri, drama, konflik dan sensualitas.

Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari dalam tulisannya di Kompas (Minggu, 11/10/2009) pernah menulis seperti ini:

Mengapa pemirsa suka mengintip urusan pribadi orang lain? Hamdi Muluk, Kepala Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, mengatakan, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. ”Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka. Semakin tersembunyi, semakin orang tertarik. Secara psikologis orang senang membandingkan perilakunya dengan perilaku umum,” katanya.

Persoalannya adalah dunia tersembunyi ini sekarang menjadi komoditas unggulan televisi. ”Ini berbahaya sebab orang digiring setiap hari untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal,” katanya.”

Semoga keuntungan sebuah perusahaan tidak lebih penting dengan DEGRADASI MORAL publik..kita hanya bisa berharap, seraya berdoa kepada TUHAN semoga yang tidak sadar itu disadarkan untuk kembali ke jalan yang lurus…

9 Responses to “Luna Maya Vs Infotainment: Psikologi Manusia lawan Arogansi Media”

  1. keren keren…
    setuju lah sama bang echa…
    wkwkwkwk…

  2. wah..setuJu bgt tuH..
    semoga para wartawan2 itu sadar g semua seleb itu mau diumbar segala macam privasinyaa..
    setiap org punya hak donk..
    tetep dukung LUNA MAYA..!!_^

  3. jimmy doangk Says:

    betul,betul,betul
    kalau di rangkum dalam pribahasa menjadi
    (sitou tumou tumowuto) : loe urusin masaalah loe sendiri jangan mengurusi masaalah orang lain
    orang mdo bilang : pusing kasana pusing sandiri jangan pusing orang p pusing

  4. dewa ardjoena Says:

    saya rasa para pekerja/penyebar gossip sebaiknya intropeksi diri, apakah setiap berita hrs ada komentar dari para celebritis/artis dan apakah harus pake kesimpulan yg memperkeruh suasana? Sebaiknya berita yg smart spt berita olahraga atau berita politik…. Jadikan masyarakat indonesia yg bermoral dan beretika…. Amien.

  5. luna sabar saja :
    luna kan cuma menulis apa yang ada di benak .. bukan berkata dengan mulut di depan wartawan impotmen. betul tulisan di balas dengan tuulisan, wartawan itu, emangnya nama orang . ku bisa tersingung .

  6. undang ITE itu harus di hapus … karena dunia maya dunia Data multi mediya. Jadi uud ITE itu sendiri yang orang it lah yang menghukum sangsinya : di blok acunt Atau di scam. –
    Bukan Pemerintah yang mengadilinya untuk membperluas bisnis hukum.. orang IT lah yang memberi larangan sangsi hukuman di dunia maya Misalnya di scam/atau
    di blokir acunt si pelanggar uud ITE tsb..
    tks ahanya saran saja.

  7. jadi luna minta buktikan apa saya didepan mata kepala wartawan bersuara: kalau ada luna bersuara mana tolong buktikan dengan alat canggih tidak ada .rekaman wartawan kalau bisa membuktikan yang di tulis lukan hanya apa yang ada di benak. pikiran maupun hati. jangan taku luna saya dikung deh..Betul kata luna tulisan di balas dengan tulisan.
    luna kan tidak menyebut nama seseorang wartawam impotmn SI ..A.. B
    Wartawan impo Imangnya Punya Yang Lapor Kasiahan tdk ada data hukumny buang2 waktu aza yang lapor amatiran.tenang saja..luna??
    salam sukses lanjutkan..

  8. betu_th mbak luna maya????

  9. aku pen setia Luna Maya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: