Halooo Semua

Posted in Umum with tags , , , , on November 30, 2008 by Mohamad Reza

Mohamad Reza

Mohamad Reza

“Alooo..selamat pagi semua… Senang sekali bisa kembali hadir untuk anda dalam sebuah program yang memberikan informasi untuk kebutuhan hari ini. Sebelum menjalani aktivitas hari ini, jangan lupa untuk kembali mengecek segala peralatan yang akan membantu anda dalam beraktivitas……

Ini merupakan salah satu pengantar dari buaaanyak pengantar para penyiar (kadang diistilahkan DJ dibeberapa radio) dalam memulai siarannya.

Dunia Radio mungkin sudah menjadi hal biasa bagi yang menggeluti, akan tetapi menjadi sesuatu yang luar biasa bagi banyak orang yang tidak tahu, suka, bahkan ingin sekali bergabung dengan salah satu radio favorit. Meski harus diakui, dari ratusan radio yang ada ditanah air, sebagian besar para penyiarnya hanya menjadikan radio sebagai salah satu tempat untuk menyalurkan hobby-nya yang suka cuap-cuap, bergaul, cari pengalaman dsb. Jarang sekali orang yang menjadikan radio sebagai tempat untuk bekerja.

So Far, it’s ok. jadi tempat bekerja atau sekedar menjadikan sampingan, radio juga perlu dikenali dengan baik untuk yang ingin ikut bergabung didalamnya. Menjadi bagian dari satu radio, bukan berarti hanya perlu mengenal bagian tertentu. Paling tidak, kita tahu sacara umum, apa sebenarnya Radio secara keseluruhan.

Blog ini ditujukan untuk anda yang ingin mengetahui secara jelas dan mungkin ingin mencari tahu, bagaimana bekerja di radio.

Penyiaran Kita

Posted in Umum with tags , , , on April 30, 2013 by Mohamad Reza

Banyak hal yang berubah ketika Indonesia mengalami masa transisi dari Perjuangan, Orde Baru hingga ke masa Reformasi, tak terkecuali untuk penyebaran informasi melalui penyiaran elektronik. Banyak yang menganggap sepele urusan tentang penyiaran, mereka seakan lupa jika hidup saat ini, hampir dipengaruhi oleh rutinitas hingga konten penyiaran yang menjadi “aksesoris” dalam hidup masing-masing individu.

ImageSebut saja, untuk orang dewasa di Gorontalo, setiap pagi rata-rata sudah menghidupkan radio dan tanpa sadar menantikan radiogram atau berita kedukaan, saat melangkah ke kantor/sudah berada dikantor menyalakan TV/radio untuk mengetahui perkembangan informasi terbaru. Malam hari mengakses TV untuk update informasi. Media seakan menjadi teman, yang tanpa sadar membantu membentuk perilaku kita. Tak terkecuali anak-anak, dengan meniru perilaku yang dilihat/didengarnya, Kita mungkin masih ingat ketika tayangan WWF (Wrestling Siaran Amerika) menjadi tayangan TV-TV nasional, berapa anak yang jadi korban karena tanpa sengaja temannya melakukan perilaku kekerasan itu pada dirinya?

Budaya dibentuk dari symbol-symbol dan kebiasaan-kebiasaan yang disepakati bersama. Interpretasi makna dibagikan dalam media-media yang menjadi rujukan-rujukan alternatif individu dalam perilaku kehidupannya. Seorang peneliti komunikasi sempat berujar “saya mulai melihat media mentransfer nilai-nilai korupsi menjadi “budaya” masyarakat Indonesia. Dengan maraknya pemberitaan tentang korupsi dibandingkan dengan pemberitaan lain, tanpa sadar media telah membuat kata “korupsi” menjadi sesuatu yang biasa saja, bukan lagi perilaku negatif yang harus kita lawan bersama

Disisi lain, regulasi media penyiaran penting untuk menjaga agar media penyiaran mempunyai kerangka yang baik dalam menjalankan perannya. Meski begitu person yang tepat dalam menafsirkan aturan juga penting untuk diperhatikan, agar paham dengan baik, mengapa penyiaran perlu ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya Gorontalo.

PENYIARAN NASIONAL & LOKAL

Pada masa perjuangan, penyiaran informasi dimulai sejak tahun 1925 hingga 1945 ketika Soekarno menyampaikan naskah proklamasi berhasil disiarkan oleh Gunawan melalui pemancar radio buatan sendiri. Pada tahun itulah kemudian pemerintah RI mendirikan RRI dan memilih Dokter Abdurrahman Saleh sebagai ketuanya. Pada masa ini penyiaran informasi menjadi amunisi signifikan pada pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbeda di zaman orde baru, yang melalui regulasinya, pemerintah memegang kendali penuh atas pendirian dan penyelenggaran penyiaran.

Di zaman Orde Baru di Gorontalo hanya memiliki 3 media siaran radio dan 1 stasiun relay TVRI. Perkembangan saat ini hamper mencapai 20 siaran radio dan 8 stasiun TV. Perkembangan yang luar biasa ini menunjukkan antusiasme para pemilik modal untuk berinvestasi di bidang penyiaran. Akibatnya memunculkan keragaman Informasi yang diterima masyarakat. Dengan keragaman informasi memungkinkan banyak topic yang menjadi tema interaksi di masyarakat. Individu-individu kemudian akan memilih satu diantara sekian informasi yang menjadi sandaran dalam keberlangsungan hidupnya, menjadikan topic-topik itu sebagai alasan untuk mengambil keputusan. Contohnya pada pemilihan umum, dengan banyaknya tokoh yang diinformasikan, individu kemudian memilih salah satu yang dianggapnya sesuai dengan standarisasi pilihan pribadinya. Bisa dibayangkan jika informasi dimonopoli? Apa yang terjadi dengan society? Apa yang akan menjadi latar belakang perkembangan kemanusiannya?

Kualitas individu ditentukan oleh kualitas Informasi yang diterima. Tokoh komunikasi, Prof. Deddy Mulayana dalam bukunya menyebutkan menyatakan kegelisahannya pada kualitas informasi TV Nasional. Mulyana menyatakan bagaimana kita bisa mengharapkan kualitas masyarakat Indonesia yang positif, jika masukan yang diberikan media cenderung negatif?[1] Pemikiran ini saya anggap kekhawatiran akan kualitas Informasi yang dibuat oleh masing-masing institusi media. Televisi yang lebih memilih memproduksi Infotainment ketimbang informasi-informasi humanis, keteladanan, dsb. Berapa banyak siaran tentang prestasi dibandingkan dengan siaran remeh temeh anak muda pacaran, orang selingkuh, cerai, dan sinetron-sintron, dan sebagainya?

Kualitas Informasi ditengah maraknya usaha media penyiaran menjadi sebuah keniscayaan. Media sebagai institusi harus bertanggung jawab atas informasi yang diberikan kepada masyarakat. Ini juga menjadi sesuatu yang penting diregulasi (bukan berarti menutup medianya). Media perlu ditemani oleh institusi seperti Komisi Penyiaran untuk mengingatkan jika mereka lupa, bahwa media merupakan instrument penting milik khalayak. Pengaruh media menjadi sesuatu yang luar, kita bisa melihat contohnya pada kasus Prita vs RS. Omni, Cicak vs Buaya 1, Protes Kenaikan harga BBM, Meninggalnya KH. Zainudin MZ, Utd. Jefri atau Uje, dsb. Bahkan opini publik bisa dikendalikan media dengan pemberitaannya. Namun, terlepas dari kontroversi, dapatkah kita membayangkan jika kita hidup tanpa ada radio dan TV?

Sesuai fungsinya, media penyiaran memiliki tiga fungsi penting, yaitu, hiburan, pendidikan dan Informasi. Fungsi-fungsi ini bisa berjalan utuh tentunya jika diperhatikan dengan baik oleh lembaga yang mengatur tentang penyiaran. Media selain membawa misi di tiga fungsi tersebut, juga harus menghidupi dirinya sebagai sebuah perusahaan yang professional. Kekuatan capital juga menjadi penentu akan konten informasi yang disampaikan media penyiaran. Namun uang tidak bisa dijadikan “Tuhan” dalam memilih informasi apa yang disampaikan kepada masyarakat. Disinilah KPI menjadi lembaga yang berfungsi mengingatkan media, tatkala mereka khilaf dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan.

Munculnya media baru dalam sebuah “global village” (meminjam istilah komunikasi)[2] menjadi tantangan tersendiri bagi penyiaran di Indonesia. Banyak asumsi dan fakta-fakta penelitian diantaranya yang menyebutkan jika media konvensional/lama mulai tidak dipercaya masyarakat. Maraknya citizen journalism seperti yang dilakukan salah seorang warga aceh yang merekam gambar tsunami memasuki rumahnya, merupakan fenomena menarik tentang penyiaran. Belum lagi munculnya Facebook, Twitter, Youtube, dan sebagainya, yang menghilangkat sekat privasi. Menjadikan internet sebagai “kawan baru” individu-individu modern. Perilaku individu-individu ini tanpa sadar mulai membentuk nilai-nilai dan norma baru di masyarakat kita, melihat dunia dari perspektif yang berbeda.

Terpaan media-media baru menjadi tantangan sendiri bagi dunia penyiaran nasional dan lokal, digitalisasi siaran juga menjadi diskursus menarik. Determinasi Teknologi menjadi sesuatu yang pasti terjadi. Regulasi harus diupdate untuk menjaga “kerangka” penyiaran yang tetap professional dan beretika Indonesia. Akan tetapi bukan berarti mencari kesalahan-kesalahan, tapi lebih pada menjaga nilai-nilai baru tetap sesuai dengan ke-Indonesiaan kita.

PENYIARAN DAN REGULASI

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dalam beberapa kalimatnya secara tegas menyebutkan frasa seperti “…memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial..”[3]. Penjabaran kalimat ini, salah satunya menurut saya disampaikan dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 yang menyebutkan: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Undang-undang 32 tentang penyiaran disusun berdasarkan pokok-pokok pikiran sebagai berikut[4]:

  1. Penyiaran harus mampu menjamin dan melindungi kebebasan berekspresi atau mengeluarkan pikiran secara lisan dan tertulis, termasuk menjamin kebebasan berkreasi dengan bertumpu pada asas keadilan, demokrasi, dan supremasi hukum;
  2. Penyiaran harus mencerminkan keadilan dan demokrasi dengan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban masyarakat ataupun pemerintah, termasuk hak asasi setiap individu/orang dengan menghormati dan tidak mengganggu hak individu/orang lain;
  3. Memperhatikan seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, juga harus mempertimbangkan penyiaran sebagai lembaga ekonomi yang penting dan strategis, baik dalam skala nasional maupun internasional;
  4. Mengantisipasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, khususnya di bidang penyiaran, seperti teknologi digital, kompresi, komputerisasi, televisi kabel, satelit, internet, dan bentuk-bentuk khusus lain dalam penyelenggaraan siaran;
  5. Lebih memberdayakan masyarakat untuk melakukan kontrol sosial dan berpartisipasi dalam memajukan penyiaran nasional; untuk itu, dibentuk Komisi Penyiaran Indonesia yang menampung aspirasi masyarakat dan mewakili kepentingan publik akan penyiaran;
  6. Penyiaran mempunyai kaitan erat dengan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit geostasioner yang merupakan sumber daya alam yang terbatas sehingga pemanfaatannya perlu diatur secara efektif dan efisien;
  7. Pengembangan penyiaran diarahkan pada terciptanya siaran yang berkualitas, bermartabat, mampu menyerap, dan merefleksikan aspirasi masyarakat yang beraneka ragam, untuk meningkatkan daya tangkal masyarakat terhadap pengaruh buruk nilai budaya asing.

Tertib untuk kemakmuran. Dasar itulah yang menjadi acuan bagi dibentuknya Komisi Penyiaran Indonesia. Bahkan dalam UU 32 tahun 2002 tentang penyiaran, dalam pertimbangan awal para penyusun Undang-Undang menyebutkan kalimat yang intinya kemerdekan dalam menyampaikan dan menerima Informasi, sementara keterbatasan resource dalam hal ini frekuensi, menjadi pertimbangan kedua.

Dengan latar belakang seperti itulah, menurut saya “rakyat” menjadi komoditas tujuan akan regulasi yang ditetapkan pemerintah dalam aturan-aturan penyiaran. Keinginan melindungi warga dari invasi informasi yang akan merusak tatanan kehidupan masyarakat Indonesia menjadi tujuan utama. Pernahkah kita bertanya, jika semua lembaga penyiaran memberikan informasi yang berguna untuk rakyat sehingga terjadi peningkatan kualitas hidup, apakah regulasi masih diperlukan?

Semangat dibentuknya Komisi Penyiaran Indonesia adalah, pengelolaan sistem penyiaran yang merupakan ranah publik harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan[5]. Campur tangan pemodal dan kepentingan Kekuasaan yang dimaksud tentu saja kelompok yang ingin melakukan monopli Informasi. Kepentingan kekuasan adalah “trauma” monopli informasi di era Orde Baru, dimana pemerintah memegang kendali atas segala aktivitas penyiaran.

Meski masih ada benturan kewenangan antara Komisi Penyiaran Indonesia dan Kementrian Komunikasi dan Informatika baik dipusat maupun sub ordinat instansi tersebut di daerah, akan tetapi regulasi akan penyiaran perlu untuk di apresiasi dengan baik, sembari tetap melakukan pembenahan-pembenahan pada kekurangan regulasi yang tidak berpihak pada, kesejahteraan umum, kedaulatan rakyat mendapatkan Informasi dan keadilan social.

Apresiasi aturan penyiaran juga wajib diberikan dengan adanya regulasi penyiaran yang memberikan ruang pengembangan dan peningkatan potensi penyiaran lokal. Sentralistik penyiaran secara nasional, berakibat terabaikannya hak sosial-budaya masyarakat lokal (baca: daerah). Banyak pihak yang mungkin lupa, keberagaman budaya di Indonesia perlu untuk dilestarikan. Kekayaan negeri ini terletak pada budaya massa-nya. Indonesia bukan hanya Jakarta, Sulawesi bukan hanya Makassar dan Manado atau Jawa bukan hanya Surabaya.

Setiap kelompok masyarakat mempunyai tradisi tersendiri. Bahkan Gorontalo bukan hanya satu tradisi, ada budaya Limutu, Hulonthalo, Bone, Atinggola, Boalemo, Pohuwato dan masih banyak lagi. Apakah regulasi ramah terhadap tradisi? Atau malah menghancurkan tradisi? Penafsirannya terletak pada individu-individu yang menginterpretasi dan menerapkan aturan.

Ada banyak aturan yang membingkai penyelenggaran praktek penyiaran di Indonesia. Layaknya bingkai, aturan-aturan ini menjadi norma yang wajib ditepati oleh insan penyiaran di Indonesia. Penerapan norma bukanlah sesuatu yang bersifat fisik, tetapi lebih merupakan pemahaman bersama antara lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan penyiaran (media) dan lembaga yang mengatur regulasi tentang penyiaran.


[1] Kata Pengantar, Komunikasi Massa, terbitan Rosda Bandung

[2] Marshall McLuhan (1962) menyebut Global Village sebagai sebuah kelompok yang terhubung secara global dan tidak bertatap muka setelah munculnya teknologi Mesin Cetak Gutenberg.

[3] Naskah Pembukaan UUD 1945

[4] Penjelasan UU 32 tahun 2002 tentang Penyiaran

[5] Situs Komisi Penyiaran Indonesia, diakses pada 26 April 2013

Pesona Alam Ciwidey

Posted in Umum with tags , , , on April 4, 2013 by Mohamad Reza

Kawah Putih

Kawah Putih

Jika anda sempat berkunjung ke Kota Bandung, Jawa Barat, saya menyarankan untuk menyempatkan waktu mengunjungi daerah wisata Ciwidey, yang terletak di daerah selatan kota Bandung..

Ciwidey adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Nama Ciwidey berasal dari bahasa Portugis Kuno, dari kata Ciwi yang berarti buah kiwi dan Dey yang berarti hari. Sedangkan dalam bahasa Yunani Kuno nama Ciwidey berasal dari kata Ciwos yang berarti sapi dan Dos yang berarti lima (id.wikipedia.org).

Destinasi wisata Ciwidey seperti Situ Patenggang, Penangkaran Rusa Ranca Upas, Pemandian Air Panas Alam Cimangu, Gunung Patuha, Kawah Cibuni, Kebun Teh Walini, dan Kawah Putih merupakan kawasan yang harus anda kunjungi.

Kebun Teh Walini, Ciwidey

Kebun Teh Walini, Ciwidey

Saya dkk mengunjunginya pada tahun 2011, sebuah pengalaman menarik saat mengunjungi lokasi ini, dari Kawah Putih dan berakhir di Kebun Teh Walini. Waktu dua hari berada dilokasi tersebut, tidak cukup untuk menikmati kesejukan alamnya.

Untuk bisa masuk ke lokasi-lokasi wisata, tentunya ada tiket masuk yang harus anda bayarkan. Dan yang pasti, jika berkunjung ke tempat ini saya menyarankan anda untuk membawa jaket tebal, karena cuaca yang dingin akan menyambut anda.

Kebun Teh Walini

Kebun Teh Walini

 

Luna Maya Vs Infotainment: Psikologi Manusia lawan Arogansi Media

Posted in Umum with tags , , , , , on December 20, 2009 by Mohamad Reza

Luna Maya

Belum lagi selesai Kasus PRITA dengan UU ITE dan perlawanan KOIN, tiba-tiba Indonesa dihentakkan dengan pernyataan Luna Maya yang membuat MURKA para pekerja Infotainment. Berawal dari statement Luna Maya melalui akun twitternya pada hari Selasa 15 Desember pukul 00.00 WIB

“Infotemnt derajatnya lebh HINA dr pd PEL*C*R, PEMB*N*H!!!! may ur soul burn in hell!!,….” (maaf, symbol bintang saya sisipkan soalnya UU ITE belum dicabut..hehehhehehe)

Membuat kelompok pekerja Infotainment melakukan rapat mendadak dan melaporkan Luna Maya ke polisi dengan pencemaran nama baik serta UU ITE. Ironisnya, dua aturan inilah yang lagi jadi perbincangan dalam kasus PRITA serta kelompok-kelompok jurnalis yang idealis (AJI, misalnya) sedang perjuangkan untuk dihapuskan. Aturan ini dianggap melawan kebebasan berekspresi dan berpendapat serta mengancam pekerjaan para jurnalis/wartawan. Yang lebih disayangkan semua orang, oknum di PWI malah mendukung pelaporan para kelompok pekerja infotainment ini ke polisi. Bahkan dalam liputan detikcom salah seorang pengurusnya menyamakan kasus ini dengan copet.

Mungkin Luna Maya emosi (ini asumsi saya) jika melihat kronologis kejadian sebelum Luna marah dan menuliskan kalimat tersebut di akun twitternya, dan saat dia sadar tulisannya akan membuat kontroversi, maka dia pun lantas menuliskan kalimat ini di akun twitternya, sebelum akunnya dihapus.

“Maaf yaa semua untuk twit yg gak penting itu, tp untuk yg mengerti makasih bgt, tp untuk yg gak ngerti jg maaf…,”

Harus diakui, bahwa ada kekeliruan yang dilakukan Luna Maya dengan mengekspresikan emosinya melalaui ruang publik (twitter mask kategori ruang publik bgtu pula FB karna banyak yang mengakses dan melihatnya)..tapi kemudian dalam setiap kejadian kita tidak boleh sepihak menyatakan ungkapan itu sudah serta merta benar. Luna mungkin saat ini dikuasai emosi dan setiap manusia pasti punya itu, Jalaludin Rakhmat menjelaskan emosi menunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala kesadaran, keprilakukan dan proses fisiologis (Psikologi Komunikasi, 2004:40).

Alur kejadian dalam kasus Luna tidak bisa kita abaikan begitu saja, kemudian dengan dalih profesi melakukan persepsi secara sepihak mengambil keputusan menjustifikasi sesuatu, karena riwayat atau alur penting untuk menjelaskan kenapa Luna berbuat seperti itu. Jika saja, tidak ada kejadian sebelumnya, mungkin tidak ada ungkapan Luna tersebut.

Pekerja Infotainment adalah Wartawan?

Sebenarnya diskusi tentang ini sudah lama sekali terjadi, dan kemudian muncul lagi gara-gara kasus Luna Maya terjadi. Beberapa oknum pengurus PWI di liputan media jelas-jelas menyatakan dukungannya bahkan ikut mendampingi pekerja infotainment ke polisi… Sementara disisi lain kelompok Aliansi Jurnalis Independen (AJI) cenderung menyatakan WAJAR apa yang dilakukan Luna Maya,atau terkesan memakluminya (berita Detikhot, 18/12)

Di kelompok para jurnalis/wartawan memang profesi para pekerja infotainment masih diperdebatkan. Cobalah anda baca Tempo dan Kompas, media itu menyebutnya kelompok infotainment dengan “pekerja infotainment” sementara kalau anda baca Detik mereka menyebutnya “Wartawan Infotainment”. Hal ini cukup memberikan bukti bahwa ada dua kelompok yang berbeda menyikapi profesi di infotainment tersebut. Ada alasan yang mengungkapkan bahwa wartawan itu bekerja untuk kepentingan publik, sementara infotainment bekerja untuk apa? saya juga belum menemukan alasannya (jika nanti ada penjelasan mohon ditambahkan pada komentar)…

Dalam sebuah diskusi di halaman “Dukung LUNA MAYA LAWAN INFOTAINMENT” yang menarik ada seorang yang mengaku pekerja infotainment yang menyatakan seperti ini,

“Media hiburan (infotainment) memberitakan kekurangan artis/selebritis (kawin cerai dll) justru agar tidak diulangi oleh artis/selebritis lain…….seperti media utama memberitakan kasus-kasus korupsi, manipulasi agar yang lain/tokoh publik tidak melakukan hal sama…..sepertinya banyak orang tak paham dengan iidealisme ini. Artis/selebritis juga perlu dipantau perilakunya……..!!!”

Dari sini saya mencoba mencari perbandingan, benarkah berita kasus korupsi untuk kepentingan publik sama dengan berita kasus perceraian artis?

Belum lagi jika saya membaca Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang : Hak Asasi Manusia, disitu dijelaskan:

“Hak Asasi Manusia adalah seprearangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahluk Tugas Yang Mha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati,dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara hukun, Pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.”

Jika perceraian menjadi trend di infotainment misalnya saya kemudian mencoba menimbang Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 Tentang : Hak Asasi Manusia Pasal 10:

“Setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan melalui pernikahan yang sah.”

Nah, jika menikah merupakan hak orang lain, ngapain kita turut campur dengan mempertontonkan ke publik, apa tujuannya kira2? apakah ingin publik untuk tidak mencontoh dengan mempertontokan pribadi orang? Dhani-Maia, KD-Anang, Dewi Persik-Aldy, semua cerai, lantas kenapa? apa gunanya untuk kehidupan publik? Luna Maya mau nikah sama Ariel, atau pacaran atau apalah namanya, apa urusannya dengan publik? bukankah itu hak mereka?

Prof. Deddy Mulyana dalam bukunya Komunikasi Massa menjelaskan:

“….bangsa kita tetap akan loyo seperti ini juga hingga kapanpun. Keluaran (output) bergantung pada masukan (in put). Kalau masyarakat kita setiap hari dijejali dengan masukan berupa gambar….berita remeh temeh tentang selebritis kita….lalu apa keluarannya? sungguh naif jika kita mengharapkan mereka akan berubah, berdisiplin,cerdas, kreatif,jujur, bertanggung jawab,berdedikasi, dsb.”

belum lagi jika kita baca Undang-undang penyiaran (nomor 32 tahun 2002) Pasal 36 ayat 1 dan 5:

(1) Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan  kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

(5) Isi siaran dilarang : a. bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong; b. menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalah-gunaan narkotika dan obat terlarang; atau c. mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan.

Tapi kenapa infotainment tiba-tiba bukannya berkurang malah menjadi banyak?, meminjam istilah Prof. Deddy, bahwa infotainment itu memenuhi naluri primitif manusia, yaitu tertarik pada misteri, drama, konflik dan sensualitas.

Budi Suwarna dan Lusiana Indriasari dalam tulisannya di Kompas (Minggu, 11/10/2009) pernah menulis seperti ini:

Mengapa pemirsa suka mengintip urusan pribadi orang lain? Hamdi Muluk, Kepala Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, mengatakan, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. ”Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka. Semakin tersembunyi, semakin orang tertarik. Secara psikologis orang senang membandingkan perilakunya dengan perilaku umum,” katanya.

Persoalannya adalah dunia tersembunyi ini sekarang menjadi komoditas unggulan televisi. ”Ini berbahaya sebab orang digiring setiap hari untuk melihat sesuatu yang dangkal. Kalau begini terus, kita menjadi bangsa yang bebal,” katanya.”

Semoga keuntungan sebuah perusahaan tidak lebih penting dengan DEGRADASI MORAL publik..kita hanya bisa berharap, seraya berdoa kepada TUHAN semoga yang tidak sadar itu disadarkan untuk kembali ke jalan yang lurus…

Menguasai Materi Siaran

Posted in Penyiar with tags , , , on November 5, 2009 by Mohamad Reza

Pahami Materi Siaran Anda..!!Setelah belajar bagaimana menguasai peralatan pada artikel sebelumnya, saya mau membahas dengan anda. Bagaimana cara kita untuk bisa menguasai materi siaran…

Materi siaran bisa didapat dimana saja, bisa dari bacaan, tontonan, mendengarkan sesuatu, atau bahkan mengamati perilaku-perilaku disekitar kita (lebih jelasnya silahkan anda baca pada postingan saya sebelumnya, Penyiar Harus Berwawasan Luas)

Saya mencoba kali ini untuk tidak menggunakan referensi, bukannya mengabaikan atau tidak menghormati para senior yang sudah mengeluarkan literatur tentang penyiaran, tetapi saya mencoba alamiah sesuai dengan apa yang saya tahu (paling tidak jika keliru anda bisa menambahkan atau kita diskusi di blog ini..hehehhe)

Materi siaran haruslah berhubungan dengan program acara yang akan anda pandu. Misalnya saja resensi film, sangat tidak mungkin kan, jika  kita akan menyiapkan materi novel “Death of Salesman” atau Novel Mid Summer Night Dreams karya shakespeare…hehehe

Akan tetapi bisa ada beberapa pengeceualian,khusus untuk film jika anda menggunakan referensi novel yang berhubungan, misalnya saja Film Laskar Pelangi karya Mira dkk, yang Novelnya juga Laskar Pelangi. Novel bisa menjadi referensi penting untuk film tersebut. Begitu juga dengan Harry Potter dan setau saya Mid Summer Night Dreams karya shakespeare juga demikian (jadi yang tertulis diatas saya ralat khusus karya shakespeare)

Yang paling penting adalah anda tahu persis apa yang anda harus bicarakan kepada pendengar, anda harus paham (bukan menghapal) akan materinya..mengerti jalan ceritanya, dan tau apa yang menarik untuk pendengar anda.

Beberapa point yang coba saya garis bawahi dalam menguasai materi siaran adalah:

  1. Mengumpulkan referensi sebanyak-banyaknya, kumpulkan bahannya sebanyak mungkin, gunakan semua resource yang tersedia, internet, majalah, koran, dokumenter, dsb. Anda bisa membaca postingan saya sblmnya tentang pengetahuan penyiar disini.
  2. Perhatikan dengan baik point penting dan menarik, kita kembali ke kelemahan radio. Karena radio selintas dan penyiar tidak bisa mengulang apa yang disampaikan, maka sangat penting untuk penyiar menyampaikan point materi yang penting dan menarik untuk disampaikan. Cara paling sederhana mengetahui apa yang diinginkan pendengar adalah dengan menempatkan posisi anda sebagai pendengar. Jika anda pendengar radio, apa yang ingin anda ketahui tentang topik itu. mulailah memetakannya satu persatu, dan kemudian anda bagi sesuai format clock program siaran anda.
  3. Simak informasi dari pendengar, jika siaran anda interaktif, maka sangat penting untuk anda menyimak dengan baik apa yang disampaikan pendengar, bisa jadi apa yang mereka sampaikan adalah informasi terbaru dari topik yang anda bacakan. Jangan terlalu sering menggunakan ungkapan”bagaimana tanggapan anda?” (karena pendengar menelpon itu berarti ingin menanggapi topik tersebut).
  4. Bikin guidelines dari materi siaran, banyak penyiar yang sering menyepelekan hal ini. Cobalah untuk mencatat/mengetikkan di komputer garis-garis besar materi yang akan anda sampaikan. Kadang ada yang membuat script secara lengkap (itu juga lebih baik). Panduan ini membantu anda untuk tidak lari dari konteks/fokus pada apa yang anda bicarakan.
  5. Jangan sepelekan lagu yang akan diputar, ini juga menjadi faktor terpenting bagi radio yang masih mengandalkan penyiar,pesan dan musik pada radionya. Jika anda siaran di Elshinta Radio, anda tidak perlu memikirkan ini, karena mereka tidak pernah memutarkan lagu. Tetapi hampir semua radio yang ada di Indonesia juga mengandalkan lagu pada setiap selingan program siarannya (bahkan dalam talkshow sekalipun). Maka penting untuk anda memperhatikan lagu apa yang akan anda putar. Di beberapa radio, daftar lagu yang diputar sudah disiapkan Music Director, tapi tidak ada salahnya jika anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan bagian musik. Lebih baik jika anda mendengarkan terlebih dahulu lagu itu, sebelum anda putar saat mengudara.
  6. Perhatikan iklan yang akan diputar, untuk radio komersial iklan merupakan hal yang penting, sehingga anda haruslah memperhatikan dengan baik iklan apa yang harus anda putar, waktu pemutaran, dan cara penayangannya.Jika dalam 1 jam iklan yang anda putar lebih dari 8 iklan maka anda harus pintar membaginya, perhatikan durasi iklan, jangan sampai dalam satu slot iklan ada yang terlalu lama jedah iklannya dan ada yang terlalu cepat.

Itu dulu yang bisa saya bagi hari ini, capek juga ngetiknya, ntar kalo ada pertanyaan, kita bisa diskusi lagi…soalnya ada tugas yang harus dikerjakan…makasih….

Gorontalo, Berdoalah : Antara Fadel Muhammad dan Suharso Monoarfa

Posted in Umum with tags , , , , , , , , , on October 19, 2009 by Mohamad Reza

Fadel Muhammad

Fadel Muhammad

Lama sekali diskusi dikalangan para mahasiswa pasca Gorontalo di Bandung tentang apakah Fadel akan jadi Menteri atau tidak pada kabinet SBY-Boediono. Wajar saja, mengingat pemberitaan media menteri juga sangat gencar, sejak SBY membuka audisi menteri-menterinya di Puri Cikeas Bogor (kediaman SBY). Sejak hari pertama dibuka audisi tersebut, Gubernur pertama yang menerima undangan SBY adalah Gamawan Fauzi (Gubernur Sumatera Barat) yang juga menjadi pembaca deklarasi SBY-Boediono ketika maju menjadi Capres-Cawapres pada pilpres kemarin. Di hari kedua muncul nama Suharso Monoarfa, tokoh Gorontalo yang saat ini menjadi bendahara DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Kandidat Ph.D di Curtin University Of Tecnology, Perth Australia. Sejumlah nama terus bermuncul hingga mencapai sekitar 30 orang, akan tetapi nama Fadel saat itu juga belum muncul.

Dihari ketiga pukul 14.20 baru kemudian muncullah sang Gubernur “Jagung” Gorontalo, Dr. Fadel Muhammad. Kemunculan Fadel berarti menjadikan partai Golkar mengutus 3 nama, masing-masing Agung Laksono, M.S Hidayat (kalangan profesional yang diusung Golkar) dan Fadel tentunya.

Fadel dan Suharso, meski dari partai yang berbeda menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat Gorontalo akan perwakilan mereka di kabinet SBY-Boediono. Fadel diprediksikan ke Menteri Perikanan dan kelautan sementara Suharso diprediksi bakal ke Menteri Perumahan Rakyat. Meski belum tentu menjadi menteri (mengingat ini baru tahap audisi) akan tetapi secara politik Fadel dan Suharso sudah membuktikan bahwa mereka berdua mempunyai “political networking” yang cukup mapan di pentas politik nasional. Diakui atau tidak kita harus menerima fakta tersebut dengan ikhlas.

Akan tetapi harapan masyarakat Gorontalo, tidak perlu terlalu besar digantungkan kepada kedua tokoh ini, perkembangan Gorontalo secara signifikan harus dipahami berada ditangan masyarakat itu sendiri. Sedikit “menjiplak” dari Al Quran bahwa “….Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. 13:11). Saya teringat pernah berdiskusi dengan Ka Harso (sebutan saya untuk Suharso Monoarfa) dirumah beliau di Telaga.

Syukuran Suharso Monoarfa

“Jika masuk di pentas nasional, kita akan berpikir dan berbicara tentang Aorta bukan Arteri. Jadi sempit pemikiran orang jika berpikir ada perwakilan Gorontalo dipusat hanya untuk mendatangkan proyek atau uang ke Gorontalo.”

Persepsi saya tentang aorta adalah Indonesia sebagai sebuah negara, bukan bicara dalam landscape daerah. Dalam diskusi kami malam itu saya menyimpulkan bahwa jika negara “sejahtera” secara umum, otomatis itu akan berdampak pada kemakmuran Gorontalo, karena Gorontalo adalah part of Indonesia.

Fadel Meninggalkan Gorontalo?

(Maaf) Jika hanya mengikuti perkembangan media di Gorontalo, maka semua orang pasti akan bilang Fadel akan meninggalkan Gorontalo karena tidak tahan dengan situasi politik Gorontalo yang terus menerus berubah menyudutkan Fadel. Tapi saya kira ini tidak demikian adanya. Kalo dilihat dalam perspektif politik wajar jika ada intrik dalam politik. Tidak sedikit pula masyrakat Gorontalo yang kecewa dengan jika Fadel benar-benar jadi menteri. Hal ini disebabkan dalam politik ada yang dinamakan Dan Nimmo dengan pengharapan personal. Pengharapan personal ini menurut Nimmo, adalah sesuatu yang paling penting dalam politik, jika harapan tinggi kemudian penampilan tokoh/pemimpin dalam peristiwa itu tidak sesuai maka orag kecewa dan meremehkan politikus.

Mayoritas suara yang berhasil diperoleh Fadel pada pemilihan Gubernur menunjukkan betapa tingginya harapan masyarakat. Dan karena Fadel adalah seorang politikus yang diatas sudah kita akui, maka saya pikir sangat tidak mungkin Fadel mengabaikan begitu saja harapan masyarakat Gorontalo. Kepntingan yang saya maksud bukan saja kepentingan proyek dan uang, sebab hal tersebut harus diakui salurannya belum benar-benar berjalan baik, masih membutuhkan perbaikan sehingga lumut-lumut atau benalu yang menempel disaluran itu bisa benar-benar bersih.

Saya pikir jika Suharso atau Fadel benar-benar menjadi menteri, maka kita hanya bisa berdoa agar kedua tokoh ini bisa melakukan aksi-aksi strategis sesuai bidang yang dipercayakan untuk mewujudkan kemajuan Indonesia dalam memakmurkan rakyatnya secara adil dan bijaksana.

Belajar dari “STATE of PLAY”

Posted in Umum with tags , , , , , , , on October 18, 2009 by Mohamad Reza

Film Directed by Kevin Macdonald, and Writen  by Matthew Michael Carnahan

State of Play

State of Play

Film ini dalam pandangan saya merupakan satu hal yang sangat luar biasa. Bukan saja dari segi audio visual yang menarik dan didukung oleh para pemain profesional sekelas Russel Crowe dan Ben Affleck tapi film ini juga berhasil mendeskripsikan sebuah perjalanan media mengungkan sebuah “fakta” yang sebenarnya.  Cal McAffrey (diperankan Russel Crowe) adalah seorang Jurnalis Washington Globe. Dalam film tersebut diawali dengan upaya Cal menyelidiki sebuah pembunuhan, yang akhirnya pada ending film tersebut sangat berkaitan langsung dengan seorang senator dari partai republik Stephen Collins (diperankan Ben Affleck).

Saya tidak akan menceritakan adegan dalam film itu satu persatu, karena nantinya tidak akan menarik lagi ditonton. Akan tetapi, Cal sebagai seorang wartawan/jurnalis profesional diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit sekali diputuskan “mungkin” oleh para jurnalis/wartawan pada dunia yang sebenarnya. Persahabatan Cal dengan Collins membuat Cal secara langsung membantu sahabatnya ketika diserang isu perselingkuhan oleh media-media lainnya. Dari memberikan nasehat apa yang harus dilakukan Collins sampai dengan memperlihatkan hasil rekaman wawancara dengan narasumber dilakukan Cal untuk Collins. Itu semua dilakukan Cal dengan atas nama persahabatan dan upaya menebus kesalahan Cal yang pernah ada “affair” dengan istri Collins, Anne Collins (diperankan Robin Wright Penn) yang juga merupakan sahabat Cal. Hebatnya film ini tidak menyediakan adegan perselingkuhan Call/Collins, yang menurut interpretasi saya, film ini memberikan kritik secara tidak langsung bahwa relationship between people adalah ranah privacy yang bukan menjadi hal umum untuk dikonsumsi publik.

Actually, rata-rata wartawan/jurnalis pasti punya teman di kongress (baca legislatif), khususnya bagi mereka yang meliput di DPR/DPD atau DPRD. Nilai persahabatan atau pertemanan ini secara tidak langsung mempengaruhi pemberitaan, tapi film ini juga memperlihatkan betapa nilai pertemanan dan persahabatan membuat Cal menjadi seorang wartawan yang bisa dengan mudah mendapatkan informasi apapun yang dia inginkan. Kebalikannya, teman wartawan Cal, Della Frye (diperankan Rachel McAdams) sulit sekali mendapatkan informasi tentang sesuatu karena tidak mempunyai akses tertentu. Peta konflik “nilai” (pribadi dan profesional) ini menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan jurnalis. Tapi ini harus segera diatas, karena apapun bentuk “hambatan” terhadap upaya pengungkapan kebenaran maka publik perlu tahu fakta secara UTUH. Nilai persahabatan yang diunggulkan Cal hampir saja merusak nilai kebenaran sebuah berita. Cal hampir mengkonstruksi cerita tentang konspirasi korporat yang diceritakan Collins. Keterkaitan bukti-bukti yang didapatkan dilapangan oleh tim Cal dikatikan dengan wawancara resmi Collins hampir menguburkan kebenaran berita. Para penonton pun pasti akan menyatakan YA pada fakta yang dibangun Collins. Tapi ini juga menggambarkan, betapa media hampir setiap hari dimanfaatkan oleh para politisi atau wakil politisi. Media menjadi sesuatu yang sangat potensial untuk dimanfaatkan, dari tiga bias yang jelas melekat dalam jurnalisme, satu diantaranya adalah Jurnalis memperhitungkan apapun yang dilakukan sumber-sumber resmi (baca: McChesney, Into the Buzzsaw: Leading  Journalist Expose, 2004:528)

Film ini juga menggambarkan bagaimana seorang wartawan diperhadapkan pada kepentingan institusi media. Persoalan oplah atau penjualan, iklan, saham, relasi pemilik modal dsb. Masalah-masalah tersebut membuat banyak wartawan akan sulit bergerak memperjuangkan kebenaran sebuah berita. Peran pemimpin redaksi yang tegas akan sebuah irama “kebenaran” tentunya dibutuhkan. Kompetensi pemimpin redaksi sebuah media juga membutuhkan perhatian khusus dari institusi media. Saya pernah tersenyum, ketika teman saya seorang pemred media cetak berkata “kepentingan kami adalah menyajikan fakta dengan benar, tapi kemudian kami juga harus memikirkan bagaimana media ini berkembang dan maju”.

Hampir seluruh wartawan/jurnalis di Indonesia pernah secara sadar atau tidak pernah mengalami sesuatu yang dialami oleh Cal. Tuntutan menyampaikan berita secara seimbang, kebenaran sempurna, membantu sahabat, tekanan editor, pengaruh pemilik media, dsb. Namun hal ini seharusnya diletakkan bukan pada skala kepentingan penyampaian informasi yang akurat.

Menguasai Perangkat Studio Siaran

Posted in Penyiar with tags , , , , , , on October 15, 2009 by Mohamad Reza

Siaran adalah sebuah aktivitas yang kompleks, skill individu yang dibutuhkan bukan hanya tentang cara berbicara dan menyampaikan pesan ke pendengar, akan tetapi PENTING juga untuk mengetahui bagaimana mengoperasikan peralatan yang ada dalam studio siaran…

Di beberapa stasiun radio metro penyiar dibantu oleh seorang operator yang bertugas mengendalikan mixer siaran, mengangkat telepon, memilah dan memilih SMS, menghadirkan sound effect dsb. Akan tetapi, masih mayoritas di radio-radio Indonesia jika penyiar mengerjakan sendiri pekerjaan didalam studio dengan tidak dibantu operator.

Nah, jika penyiar hanya berbekal pengetahuan tentang bagaimana berbicara didepan microphone, tanpa ada kemampuan untuk mengoperasikan peralatan, maka saya JAMIN pasti siaran tersebut akan “dihiasi” sejumlah kekurangan yang bisa berdampak pada hancurnya kualitas siaran program radio.

Saya mencoba sedikit mendeskripsikan peralatan-peralatan yang didalam studio siaran, yang patut dikuasai oleh penyiar:

Kenali Mic Anda

Kenali Mic Anda

1. Microphone / Mic
Dari jenis dan type microphone ini berbeda-beda, untuk mempelajari secara spesifik tentang microphone anda bisa membaca buku manual microphone yang anda gunakan atau berkonsultasi dengan teknisi anda. Ada micropgone yang mengharuskan mulut anda harus berada didepan micdengan jarak 1-2 jengkal (seperti sennheiser e-35, dkk), tetapi ada pula yang tidak terlalu meminta anda harus dekat mic (condenser microphone). Setiap studio siaran berbeda, sehingga lebih lengkapnya, anda silahkan berkonsultasi dengan teknisi atau manager program anda

Mixer Siaran

Mixer Siaran

2. Mixer siaran

Mempelajari alat yang satu ini emang agak ribet, tapi jika anda tekun, pasti anda bisa menguasai. Anda haruslah bisa menghafal chanel-chanel mixer yang anda gunakan. chanel microphone, komputer, hybrid telepon, vcd/dvd, perangkat relay, dsb. Insya allah tidak berselang lama, anda akan otomatis mengetahui posisi fader (pada foto disamping, fader adalah tombol yang berwarna hitam. biasanya digerakkan dari bawah ke atas). Jangan lupa juga untuk memperhatikan lampu/layar level indikator yang ada di mixer anda, sehingga anda bisa mencocokkan intensitas volume lagu dan microphone anda.

3. Hybrid Telepon

Hybrid adalah sebuah alat yang mengkonversi sambungan telepon biasa ke mixer siaran anda. Hal ini membuatan anda bisa berkomunikasi langsung dengan pendengar. Anda juga harus bisa mengenali alat tersebut, biasanya hybrid diaktifkan sebelum fader mixer digeser keatas, hal ini mengantisipasi adanya bunyi yang tidak diinginkan terdengar oleh pendengar.

4. Headphones

Ada penyiar yang terkadang juga tidak suka menggunakan headphone. sebaliknya, ada juga penyiar yang suka skali menggunakan headphones dari awal hingga akhir siaran. Fungsi headphone adalah untuk mendengarkan aktifitas yang sedang mengudara. Sehingganya penyiar diwajibkan untuk menggunakan headphones disaat siaran berlangsung.  Headphones juga sengaja diadakan untuk mengantisipasi brooming jika kita menggunakan speaker kontrol yang biasa, mengingat dalam ruangan tersebut microphone juga aktif ketika anda menyiar. Jangan lupa perhatikan tanda L dan R di speaker headphones. tanda L berarti LEFT yag artinya posisi di telinga kiri dan R berarti RIGHT yang berarti digunakan di telinga kanan.

bersambung…….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 921 other followers